<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21877812</id><updated>2011-04-21T16:47:52.657-07:00</updated><title type='text'>Viktus Murin</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://viktusmurin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21877812/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viktusmurin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Viktus Murin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18092839946416920544</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21877812.post-113890542096045242</id><published>2006-02-02T10:14:00.000-08:00</published><updated>2006-02-02T10:37:00.970-08:00</updated><title type='text'>Alas Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1941/2217/1600/MENABUR%20ASA-03%20%28Foto%20Tentang%20Penulis%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1941/2217/320/MENABUR%20ASA-03%20%28Foto%20Tentang%20Penulis%29.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Menjemput Peluncuran Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MENABUR ASA DI TANAH ASAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kupang, 7 Februari 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Di kehidupan ini, tidak ada yang kebetulan, pun dengan asal-muasal manusia, saat mana TUHAN menciptakan makhluk berbudi pekerti ini dengan “tanah” sebagai bahan bakunya. Seturut riwayat Kitab Suci, usai menyusun tekstur raga manusia dari tanah, Tuhan pun menghembuskan roh-Nya yang agung. Onggokan tanah yang sebelumnya dingin dan kaku itu, secara niscaya hidup sebagai manusia dengan membawa Roh Tuhan di dalam dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Tanah, menjadi bagian dari sebab-musabab keberadaan manusia. Tanah pula yang bakal menjadi akhir riwayat manusia. Alhasil, tergenapilah warta dalam Kitab Suci yang masing-masing kita imani, bahwa “manusia berasal dari tanah, dan akan kembali menjadi abu tanah lagi”. Ke mana saja melangkah, kita pasti berpijak pada tanah. Selalu begitu, sampai akhir zaman. Begitulah tanah menampakkan kasihnya pada kita, anak-anak manusia di bumi fana ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Namun ironisnya, acapkali kita mengumpat pada tanah saat amarah membelenggu benak dan rasa. Tidak jarang kita menghardik beringas pada tanah yang sedang kita pijak. Di saat lain, saat libido ketamakan dan hasrat ‘ugahari’ (kerakusan yang tak berbatas) datang menggoda, tidak sedikit orang yang saling merampas dari tanah ini. Akibatnya, banyak dari sesama kita yang tergusur menjadi kaum terusir, untuk akhirnya tak sanggup lagi bertahan hidup karena kehilangan asa. “Habis nafas di ujung raungan/Rebah tuntas berkalang tanah…,” lantun Ebiet G.Ade dengan lirih lewat syair balada: Potret Anak Harapan, seperti mengajak kita berkontemplasi tentang mutlaknya “empati sosial” pada semua kaum yang terpinggirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Tanah, begitu ikhlas ia menimang kita. Tanah, menjadi pusar utama siklus ekosistem, yang membuat manusia, hewan, dan tumbuhan mampu survive sebagai makhluk hidup. Tidak cuma itu, tanah menyediakan dirinya bagi kita sebagai tempat pembuangan ‘segala material jasmani’ yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh kita. Tanah, begitu setia ia melayani kita, dan rasanya kita tidak sanggup membalas tuntas hutang kebaikannya. “Kau berhutang lebih dari emas pada dia yang melayanimu. Berikan dia secercah hati, atau pelayananmu,”, begitu sang pujangga Kahlil Gibran pernah bertutur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;MENABUR ASA DI TANAH ASAL. Judul buku ini merupakan metafora sederhana yang semoga bisa memberi makna tentang kecintaan kita pada tempat kelahiran, pada kampung halaman, pada tanah asal. Kendati mungkin telah jauh kita tinggalkan menurut ukuran jarak dan waktu, namun ia selalu dekat-rapat di benak, sukma, dan batin kita. Begitulah adanya, “Tanah Asal” dalam buku ini, tidak lain-tidak bukan adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang adalah bagian tidak terceraikan dari kampung besar Indonesia Raya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Hampir setengah abad Propinsi NTT merangkak dengan memanggul tumpukan persoalan hidup rakyatnya. Sepanjang rentang waktu itu, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NTT masih tetap terdengar sayup-sayup, pun terlihat samar-samar. Dalam kacamata statistik di negeri kaya sumber alam bernama Republik Indonesia, Propinsi NTT berulang kali terketik di berbagai laporan resmi sebagai provinsi tertinggal, terbelakang, atau miskin. Inilah wujud kasat mata dari ketimpangan penyelenggaraaan kekuasaan negara, yang memosisikan daerah seperti NTT pada pinggiran “peta perhatian” negara. Tetapi, “jangan salahkan bunda mengandung”. Pepatah ini jelas mengingatkan kita untuk tidak boleh mencerca Tanah Asal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Di panggung opini, dalam warta media massa, acapkali kita simak berbagai pemberitaan tentang NTT yang cenderung berbau kasus, yang bertendensi kusut-masai. Tidak apa-apa! Ini menjadi pertanda bahwa kontrol sosial yang diperankan media massa sebagai representasi “suara kaum tak bersuara” (the voice of voiceless), ternyata belumlah mati suri. Seiring dengan itu, asa pun muncul, semoga kontrol sosial itu disimak dan dicerna oleh para pembuat kebijakan (decesion maker), dikoreksi, untuk akhirnya dapat bermanfaat bagi publik. Tentu saja rakyat boleh berharap agar resonansi kontrol sosial itu di-daur ulang oleh para penguasa dengan berbasis pada kebajikan (wisdom), demi semata-mata melahirkan kebaikan publik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Benar adanya bahwa aneka kasus bagai bertumpukan di Tanah Asal. Percikan gagasan dalam buku ini tentu saja bukanlah nasihat, apalagi petuah atas tumpukan kasus itu. Bukan, tentu saja bukan! Buku ini lebih merupakan pendokumentasian serpihan fakta yang semoga saja dapat menstimulasi adrenalin publik dalam pencarian alternatif solusi. Dalam pada itu, buku ini lebih merupakan upaya sederhana menyimpan “bercak-bercak realitas”, yang semoga saja kian menebalkan penghayatan atas ziarah sosial dan prosesi kemanusiaan kita di Tanah Asal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sebermula, kita tak punya apa-apa saat lahir di Tanah Asal, maka sungguh tak patut bila kita berhasrat memiliki segalanya dari tanah ini. Sepantasnya kita memberi sebanyak mungkin pada tanah ini. Kita bisa memberi apa saja, sesuai talenta yang dikandungkan oleh Sang Ilahi pada masing-masing kita. Bila kita mampu terus-menerus merawat deposit penghayatan atas kebaikan Natur pada kita, maka kita tak bakal menistakan tanah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sungguh, kita tak punya apa-apa saat “datang” di Tanah Asal. Suatu saat nanti, entah kapan kita pasti “pulang” melewati ufuk kehidupan, menuju “Kehidupan”, pun dengan tidak membawa apa-apa. Kalau begitu, untuk apa kita ‘berkelahi’ dan merampas dari tanah ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Yang telah diberikan kehidupan sepatutnya kita lakoni, tanpa meminta lebih banyak, tanpa menuntut berlebihan, tanpa merampas dari ketiadaaan. Kehidupan semestinya dijalani tanpa berhala beban; gengsi, pangkat, jabatan, harta, kebanggaan semu, atau kemahsyuran klise. Kehidupan mestinya membuat kita mahfum, bahwa kita ini hanyalah ibarat setitik air di tengah samudera, sebutir debu di tengah gurun, atau sebongkah batu di bentangan alam raya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Tibalah saatnya bagi kita untuk berhenti mengeluh. Sudah waktunya untuk kita bekerja keras terus-menerus. Genaplah masanya bagi kita untuk berseru-seru: Madahkan syukur untuk Sang Khalik Agung, yang dengan kelembutan surgawi telah menghantar kita ke Tanah Asal...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam hening di sebuah sudut Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);font-size:85%;" &gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mula Januari 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21877812-113890542096045242?l=viktusmurin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://viktusmurin.blogspot.com/feeds/113890542096045242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21877812&amp;postID=113890542096045242' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21877812/posts/default/113890542096045242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21877812/posts/default/113890542096045242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://viktusmurin.blogspot.com/2006/02/alas-kata_02.html' title='Alas Kata'/><author><name>Viktus Murin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18092839946416920544</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
